Alarm Bahaya Pasar: Rupiah Kritis Dekati Rp17 Ribu per Dolar AS, IHSG Ikut Terjun Bebas

JAKARTA – Mengawali pekan usai libur panjang, pasar keuangan Tanah Air langsung disambut awan mendung. Pada perdagangan Senin (30/3/2026) pagi, nilai tukar Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kompak berdarah-darah dan tertekan hebat di zona merah.

Mata uang Garuda terpantau loyo dan berada di level kritis Rp16.982 per dolar AS. Angka ini semakin mendekati batas level psikologis Rp17.000.

Pelemahan ini sejalan dengan tren mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga berguguran. Mulai dari Baht Thailand, Yuan China, Peso Filipina, hingga Won Korea Selatan kompak bertekuk lutut di hadapan keperkasaan dolar. Sebaliknya, mata uang negara-negara maju seperti Euro dan Poundsterling justru nyaman di zona hijau.

Biang Kerok Pelemahan Rupiah

Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, membeberkan bahwa tekanan berat yang memukul Rupiah ini dipicu oleh memburuknya sentimen global serta meroketnya harga minyak dunia.

Lebih lanjut, pelaku pasar saat ini tengah dibayangi ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), masih berpotensi untuk menaikkan suku bunga acuan mereka tahun ini, alih-alih menurunkannya seperti yang diharapkan banyak pihak.

Meski begitu, Lukman memprediksi Bank Indonesia (BI) tidak akan tinggal diam dan berpeluang besar melakukan intervensi pasar jika Rupiah benar-benar terus merosot menembus level Rp17.000 per dolar AS.

IHSG Ikut Terseret Arus Merah

Kepanikan di pasar uang merembet langsung ke pasar modal. IHSG dibuka melemah dan terus merosot. Berdasarkan data RTI Business pukul 09.07 WIB, IHSG anjlok 1,92% atau 136 poin, terjerembap ke level 6.960.

Dari seluruh saham yang diperdagangkan pagi ini, sebanyak 443 saham terpantau melemah tak berdaya, sementara hanya 114 saham yang mampu menguat. Kinerja IHSG secara tren memang sedang mengkhawatirkan, di mana dalam tiga bulan terakhir indeks sudah terkoreksi cukup dalam hingga 19,22%.

Kini, para pelaku usaha dan investor hanya bisa wait and see menanti manuver kebijakan dari otoritas moneter untuk meredam kepanikan pasar.

Popular Categories

Hot this week

Warga Tapteng Terlantar 4 Bulan, Bobby Nasution Bongkar Biang Kerok Mandeknya Pembangunan Huntara

MEDAN – Derita warga Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) yang...

Rajut Harmoni Idulfitri: Pemko Tebing Tinggi dan Pemkab Sergai Perkuat Sinergi Pembangunan Lintas Daerah

SEI RAMPAH – Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai...

Kabar Lega! Konflik Timur Tengah Memanas, Keberangkatan Jemaah Haji 2026 Dipastikan Tetap Sesuai Jadwal

JAKARTA – Kabar melegakan akhirnya datang menghampiri puluhan ribu...

Emak-emak Merapat! Usai Libur Lebaran, Harga Cabai Merah di Medan Anjlok Tapi Rawit Malah Meroket

MEDAN – Momen libur panjang Lebaran telah usai. Memasuki...

Petani Simalungun Terancam Gagal Panen Kemarau Ini, Pemkab Malah Kosongkan Anggaran Mesin Pompa Air

SIMALUNGUN – Jeritan para petani di Kabupaten Simalungun tampaknya...

Topics

Related Articles