Poin Utama:
- Cadangan beras pemerintah menyentuh angka 5,37 juta ton per 18 Mei 2026, mencatatkan rekor tertinggi dalam sejarah Indonesia.
- Lonjakan stok ini didorong oleh agresivitas Perum Bulog yang telah menyerap 2,8 juta ton (70 persen dari target tahunan) hingga pertengahan Mei.
- Kementerian Pertanian memproyeksikan penyerapan beras hingga akhir Juni 2026 dapat menembus 3,3 juta ton.
- Keyakinan pencapaian target didukung oleh luasnya potensi panen yang mencapai 929 ribu hektare pada Mei dan 841 ribu hektare pada Juni.
- Target pengadaan untuk semester II (Juli–Desember) dipatok sebesar 670 ribu ton guna menjaga stabilitas pangan.
Sektor pangan nasional kembali menorehkan pencapaian yang signifikan. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian melaporkan lonjakan luar biasa pada cadangan beras nasional yang menembus angka 5,37 juta ton per Senin (18/5/2026).
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan sebuah rekor baru bagi ketahanan pangan Tanah Air.
“Cadangan beras sampai dengan 18 Mei mencapai 5,37 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia,” jelas Sudaryono saat memberikan keterangan dalam Rapat Kerja bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Selasa (19/5/2026).
Agresivitas Bulog Serap Gabah Petani
Lonjakan stok beras yang begitu masif ini tidak datang dengan sendirinya. Sudaryono menjelaskan bahwa kunci utama dari melimpahnya cadangan pangan ini adalah langkah agresif Perum Bulog dalam menyerap gabah dan beras hasil panen petani sepanjang tahun ini.
Hingga pertengahan Mei 2026, Perum Bulog tercatat telah merealisasikan pengadaan beras sebesar 2,8 juta ton. Angka ini setara dengan 70 persen dari total target penyerapan tahunan yang dipatok oleh pemerintah sebesar 4 juta ton.
Melihat tren positif tersebut, pemerintah sangat optimistis target penyerapan akan tercapai. Sudaryono memproyeksikan bahwa hingga akhir semester pertama, tepatnya pada Juni 2026, penyerapan beras dan setara beras oleh Bulog dapat menembus 3,3 juta ton atau mencapai 82 persen dari target tahunan.
“Angka ini (proyeksi semester I) naik 25,54 persen dari realisasi tahun sebelumnya, yaitu 2,65 juta ton,” imbuhnya.
Potensi Panen Tetap Tinggi di Semester II
Rasa optimisme pemerintah juga dilandasi oleh besarnya potensi panen di berbagai daerah lumbung padi nasional. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, potensi luas panen pada bulan Mei mencapai sekitar 929 ribu hektare. Tren ini diperkirakan akan tetap berada di level yang tinggi pada bulan Juni dengan luasan mencapai 841 ribu hektare.
Dengan melimpahnya bahan baku di lapangan, pemerintah yakin langkah penyerapan akan berjalan mulus tanpa kendala berarti. Rencana strategis untuk semester kedua pun telah disiapkan untuk memastikan ketahanan pangan tidak goyah.
“Pada Juli hingga Desember, target pengadaan sebesar 670 ribu ton, atau naik 24,16 persen dari tahun sebelumnya,” pungkas Sudaryono, menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas stok dan harga pangan nasional hingga akhir tahun.



