Hubungan sekutu antara Amerika Serikat dan Israel kini tengah berada dalam sorotan tajam. Badan intelijen Pentagon, Defense Intelligence Agency (DIA), dilaporkan telah meningkatkan status ancaman aktivitas spionase Israel terhadap Amerika Serikat dari level “tinggi” menjadi “kritis”.
Perubahan status keamanan ini pertama kali diungkap oleh NBC News pada Jumat (5/6/2026) dan dikuatkan oleh laporan mendalam The New York Times. Peningkatan ini dipicu oleh kekhawatiran pihak Washington mengenai agresivitas badan intelijen Israel dalam memantau komunikasi internal pejabat tinggi AS terkait konflik di Timur Tengah.
Monitor Kebijakan Trump
Ketegangan muncul seiring adanya perbedaan visi yang mencolok antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Di saat Trump secara terbuka mendesak diakhirinya perang, Netanyahu justru terus mendorong operasi militer meski gencatan senjata telah disepakati sejak 8 April lalu.
Berdasarkan laporan DIA, Israel secara aktif berupaya memantau proses pengambilan keputusan di Washington guna membaca arah kebijakan luar negeri AS. Sasaran pemantauan pun bukan main-main; laporan menyebutkan adanya bukti upaya penyadapan yang menyasar utusan khusus Trump, Steve Witkoff, serta pejabat tinggi Pentagon seperti Elbridge Colby dan Michael DiMino IV.
Witkoff sendiri merupakan sosok kunci dalam perundingan nuklir yang berlangsung pasca-serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada Februari lalu. Tingginya minat Israel terhadap arah kebijakan Washington diduga kuat didasari oleh ketidakpastian strategi AS ke depannya.
Pola yang Berbeda dari Sekutu Lain
Yang membuat laporan ini mengejutkan adalah perbandingan status ancaman tersebut. Para pejabat AS menilai intensitas kegiatan intelijen Israel saat ini jauh lebih agresif dibandingkan negara sekutu AS lainnya. Bahkan, level “kritis” ini disebut-sebut melampaui penilaian ancaman terhadap negara-negara yang selama ini memiliki hubungan diplomatik lebih tegang dengan Washington.
Meski seorang juru bicara Pentagon menepis laporan tersebut sebagai hal yang “tidak benar”, rekam jejak insiden sebelumnya menjadi catatan serius. Pada 2021, muncul laporan upaya penanaman perangkat penyadap di kantor pusat DIA, serta kasus pada 2025 di mana agen intelijen Israel, Shin Bet, diduga mencoba memasang alat sadap pada kendaraan operasional Secret Service AS.
Saat ini, Kongres AS tengah membahas integrasi riset dan pengembangan persenjataan secara mendalam dengan Israel. Laporan spionase ini dipastikan akan memicu perdebatan alot di Washington, mengingat eratnya kerja sama pertahanan dan miliaran dolar bantuan militer yang selama ini digelontorkan AS untuk Tel Aviv.
Kutipan “DIA mencatat peningkatan aktivitas yang signifikan sejak akhir 2024 ketika pemerintahan AS mulai meningkatkan tekanan terhadap Israel terkait perang di Gaza.”



