Poin Utama:
- Bupati Sergai H. Darma Wijaya meresmikan pelepasan pawai drumband dalam rangkaian Festival Bumi Serampang Dua Belas pada Jumat (15/5/2026).
- Sebagai bentuk kampanye hidup sehat, Bupati beserta rombongan memilih bersepeda dari rumah dinas di Sei Rampah menuju lokasi acara.
- Pawai ini dimeriahkan oleh enam grup drumband yang datang dari berbagai wilayah di dalam maupun luar Serdang Bedagai.
- Pemerintah daerah menekankan bahwa festival ini adalah ruang penting untuk merawat kearifan lokal di tengah laju modernisasi.
- Kehadiran festival budaya juga diharapkan mampu memutar roda perekonomian bagi para pedagang kecil dan pelaku UMKM di sekitar lokasi acara.
Pagi di Kecamatan Perbaungan terasa berbeda pada Jumat (15/5/2026). Ruas-ruas jalan yang biasanya hanya dilintasi kendaraan niaga, perlahan dipadati warga yang antusias. Mereka berkerumun di tepi jalan, menanti alunan instrumen dan langkah tegap para peserta pawai drumband yang menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian Festival Bumi Serampang Dua Belas.
Namun, sebelum keriuhan musik bergema, ada sebuah pemandangan menarik yang mengawali hari itu. Bupati Serdang Bedagai (Sergai), H. Darma Wijaya, tidak datang dengan pengawalan protokoler kendaraan dinas yang kaku. Ia memilih mengayuh sepeda bersama rombongannya, menempuh perjalanan dari rumah dinas di Sei Rampah hingga tiba di titik acara.
Pilihan ini bukan sekadar rutinitas olahraga pagi. Di baliknya, terselip pesan humanis yang ingin ia sampaikan kepada warganya: sebuah ajakan untuk membumikan pola hidup sehat, sekaligus mencairkan jarak antara pemimpin dan masyarakat di ruang publik.
Lebih dari Sekadar Tontonan Jalanan
Setibanya di lokasi, suasana makin semarak. Sedikitnya enam grup drumband, baik dari wilayah Sergai maupun dari luar daerah di Sumatera Utara, bersiap unjuk gigi. Barisan seragam warna-warni dan atraksi koreografi yang disiplin segera menjadi magnet tontonan warga.
Bagi Darma Wijaya, kemeriahan ini memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar hiburan akhir pekan. Saat melepas para peserta pawai, ia mengingatkan bahwa Festival Bumi Serampang Dua Belas adalah sebuah jangkar untuk menjaga identitas daerah. Di tengah arus informasi dan tren budaya luar yang bergerak begitu cepat, kearifan lokal kerap kali terpinggirkan.
“Kegiatan seperti ini menjadi ruang bagi kita untuk melestarikan kebudayaan dan kearifan lokal agar tidak hilang. Tradisi, seni, dan budaya daerah harus terus dijaga serta diwariskan kepada generasi muda,” tuturnya di hadapan warga yang hadir.
Membangun Ruang Bersama untuk Budaya dan Ekonomi
Pemerintah Kabupaten Sergai menyadari bahwa pelestarian seni tidak bisa hanya mengandalkan instruksi dari atas meja birokrasi. Ia membutuhkan panggung, apresiasi, dan keterlibatan masyarakat secara langsung. Penampilan para peserta drumband yang penuh kreativitas menjadi bukti bahwa seni pertunjukan masih sangat relevan dan memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.
“Festival ini menjadi simbol kebersamaan masyarakat Sergai. Kita ingin budaya lokal tetap hidup, berkembang, dan menjadi identitas daerah yang membanggakan,” tambah Darma Wijaya.
Sisi menarik lainnya dari gelaran budaya semacam ini adalah efek dominonya terhadap denyut ekonomi akar rumput. Di mana ada keramaian, di situ ada peluang. Festival ini secara otomatis menghidupkan lapak-lapak pedagang kecil, penjaja kuliner, hingga pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) setempat.
Pada akhirnya, Festival Bumi Serampang Dua Belas bukan sekadar perayaan seni. Diiringi derap langkah drumband dan riuh rendah masyarakat Perbaungan, acara ini menjadi sebuah pengingat manis: bahwa kebudayaan akan tetap tegak berdiri selama warganya mau merawat dan merayakannya bersama-sama.



